Rabu, 07 Januari 2009

Memahami Sifat Marah

Menurut kacamata psikologi, marah adalah bagian dari emosi. Di antara sekian banyak emosi, seperti gembira dan sedih, marah dikategorikan sebagai emosi yang negatif. Sebagaimana yang diungkapkan psikolog Alva Handayani, penyebab marah berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya terjadi karena frustasi, tersinggung, atau memang karena temperamen.

Ada pula kemarahan yang terjadi karena kasus atau pengalaman seseorang di masa lalu. Kasus ini disebut kasus predisposisi. Pada kasus ini, kemarahan disebabkan oleh pengalaman buruk masa lalu yang menumpuk hingga pada akhirnya meledak ketika ada pemicunya. Kita sering menyaksikan contohnya di layar kaca, misalnya ketika seorang istri yang dikenal orang lain sebagai seorang wanita sabar, ternyata mampu menghabisi nyawa suaminya dengan cara yang sadis.

Emosi seseorang selama ini dinilai dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Faktor lingkungan memang berpengaruh sebagai musabab sekaligus pemicu kemarahan seseorang, tetapi sebenarnya faktor lingkungan amat bergantung pada faktor internal, yaitu kestabilan emosi. Dalam lingkungan yang sama, dua orang berbeda bisa bereaksi berbeda dalam menghadapi masalah yang sama, bergantung pada kendali diri yang dimiliki. Orang yang ritme hidup dan denyut jantungnya lebih cepat, ketika dihadapkan pada situasi lebih lambat, dia akan stres dan mudah marah. Begitu pun sebaliknya, orang yang emosinya tenang dan lambat jika dia masuk ke situasi yang lebih cepat, dia akan cepat marah dan stres.

Tip Sukses Pengelolaan Uang Saku

UANG saku mungkin dianggap sepele, terutama yang biasa menjatah
harian, karena melihat nominalnya yang begitu kecil. Tapi kalau
tidak cermat dalam memberikan uang saku buat anak-anak, alih-alih
ingin memanjakan anak, malah Anda sendiri dibuat pusing dan
keteteran.
Untuk itu, orang tua perlu melatih anak sejak dini menggunakan uang.
Menurut psikolog Alva Handayani, "Melalui uang yang kita berikan,
anak mempunyai peluang untuk belajar bagaimana menghargai uang,
membuat budget, membuat perencanaan keuangan, serta mengelolanya
dengan baik."
Bicaralah dengan anak untuk mengetahui kesiapan dan kesanggupan dia
mengelola uang. Untuk anak-anak yang lebih besar, kita bisa mulai
memikirkan apakah uang saku akan diberikan kepada anak dalam bentuk
mingguan atau bulanan.
Orang tua juga bisa berdiskusi mengenai bagaimana caranya menyusun
kebutuhan mingguan atau bulanan anak, lanjutnya, disesuaikan dengan
keuangan yang ada. Dalam list tersebut, mungkin ada keinginan anak
yang lain, di luar kebutuhan dia untuk jajan di sekolah.
Misalnya , anak juga ingin membeli mainan atau hadiah tertentu.
Orang tua bisa mengajarkan anak untuk membuat prioritas, membuat
posting, serta mengembangkan alternatif dan konsekuensi dari
pilihan/ keputusan-keputusan yang dibuat.
Jika anak ingin membeli mainan, akan ada pengurangan uang jajan,
atau harus ada uang yang dia sisihkan untuk ditabung. Ia juga harus
bisa memperkirakan berapa lama dia harus menabung hingga bisa
mendapatkan mainan yang dia inginkan.
Uang saku yang diberikan secara bulanan, orang tua bisa mulai
mengajak anak untuk membuka rekening di bank. Orang tua hanya tingal
mentransfer uang ke rekening anak setiap bulannya. Namun untuk
beberapa bulan pertama, dampingi anak saat berdiskusi mengenai
perencanaan keuangannya.
Kadang, kata Alva, sifat kekanak-kanakannya masih muncul dengan
target membeli barang-barang yang konsumtif. Lakukanlah secara
bertahap. Dalam jangka panjang, anak kita arahkan untuk menghasilkan
pilihan barang atau kegiatan yang memiliki nilai edukatif atau
produktif, atau bahkan menrancang project yang "menghasilkan" uang. Anak-anak yang diajarkan keterampilan mengelola keuangannya, akan
tumbuh menjadi orang dewasa yang sukses. Mereka akan belajar membuat
pilihan, menjadi lebih mandiri, dan mengetahui cara menetapkan serta
mencapai berbagai sasaran finansial. Mereka juga akan membuat
keputusan membeli yang cerdas, menentukan prioritas pengeluaran
mereka sendiri dan mematuhi anggaran yang sudah dibuat.
Berikut beberapa tips untuk mengelola uang saku .


1. Uang saku bukan hanya untuk jajan. Uang ini diberikan agar anak
pandai mengelolanya sebaik mungkin. Bila ada kebutuhan mendesak,
anak bisa mengatasinya segera tanpa menunggu bantuan atau keputusan
orang tua.

2. Membiasakan untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan bukan semata- mata keinginan. Anak dilatih untuk membeli sesuatu yang sangat
diperlukan. Di usianya yang masih harus belajar, konsep ini akan
menjadi model bagi dirinya bagaimana mengelola dan mengendalikan
keuangan sendiri.

3. Bila tidak ingin boros, bawalah makanan dari rumah. Agar anak
tidak terbiasa jajan di sekolah. Kesehatan, keseimbangan gizi maupun
keamanannya terkontrol. Persoalannya pedulikah orang tua untuk
membantu menyiapkannya.

4. Melatih anak menabung. Biasanya di sekolah ada program menabung,
kegiatan ini bisa diikuti anak dengan support orang tua yang baik
dan benar. Arahkan menabung bukan hanya menjadi suatu rutinitas yang
tak berarti lebih dari mengumpulkan dana, jelaskan mengapa kita
melakukannya.

5. Latihan menahan diri. Ketergantungan anak kepada orang tua secara
finansial terkadang dijadikan senjata baginya, bila tidak dicermati
akan menjadi bumerang bagi orang tua. Melatih menahan diri perlu
dilakukan agar anak tidak mudah tergiur sesuatu dan bisa
mengendalikannya.

6. Buatlah rencana. Cobalah merencanakan sesuatu yang bermanfaat.
Misalnya tahun ini akan membeli sepeda, atau liburan ke luar kota
bahkan ke luar negeri. Nah bisa juga kan memasukan sebagai program
dalam uang saku anak, dengan berusaha mengarahkan anak menyisihkan
kelebihan dana.

7. Mengembangkan hobi. Artinya dari uang saku juga bisa mendorong
membeli beberapa hal yang berkaitan dengan hobi. Bila dikelola
dengan baik, bisa menjadi hal yang positif, uang tidak begitu saja
keluar untuk sesuatu yang sia-sia. sebutsaja mengembangkan bakat
melukis, bisa membeli crayon, cat air atau cat minyak, atau kanvas
tanpa memberatkan anggaran belanja keluarga.

Sumber : http://www.bloggaul.com/joegp/readblog/39121/tip-sukses-pengelolaan-uang-saku

Selasa, 06 Januari 2009

Fobia Matematika

Dalam Ujian Nasional, ataupun ujian-ujian lain yang menghadirkan matematika sebabagi salah satu bahan uji, matematika acap menjadi momok. Menurut Psikolog Alva Handayani pada Semiloka Mengatasi Fobia Matematika pada Anak(14/08/04) di Bandung, “Munculnya fobia Matematika juga disebabkan sugesti yang tertanam dalam benak seorang anak bahwa Matematika itu sulit. Sugesti tersebut muncul dari orang-orang sekitar yang mengatakan Matematika itu sulit.”

Dari aspek psikologi, menurut psikolog Alva Handayani, peranan orang tua pun dibutuhkan untuk mengatasi fobia matematika. Berdasarkan kapasitas otak manusia yang luar biasa, orangtua dapat optimistis bahwa semua anak dapat memahami matematika.

Menurutnya, mengajar matematika bukan sekadar mengenal angka dan menghapalnya namun bagaimana anak memahami makna bermatematika. Konsekuensinya, kata Alva, orang tua harus memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi, observasi dalam keadaan rileks. Para orang tua tidak perlu khawatir dengan kemampuan matematika para putra-putri mereka. Terpenting dalam menumbuhkan cinta anak pada matematika adalah terbiasanya anak menemukan konsep matematika melalui permainan dalam suasana santai di rumah dalam rangka mempersiapkan masa depan anak.

"Jika anak sering menemukan orang tua menggunakan konsep matematika, anak akan menangkap informasi tersebut dan akan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, pengaturan uang saku dan tabungan hingga pengaturan jadwal kereta api atau penerbangan," katanya.

sumber : http://myscienceblogs.com/matematika/2007/06/21/pendidikan-matematika/

http://www.mathmagicschool.com/articles-content.asp?nav=info&ContentID=231589674




Gaul Proaktif

Remaja gaul berarti menjadi anak yang berpotensi, mampu menggali kemampuan diri sendiri dengan selalu belajar, berkreasi, dan menuju masa depan dengan penuh arti.

Demikian dikatakan Alva Handayani, psikolog anak dari Bandung, narasumber dalam acara menyambut Ramadan 1425 H itu. Selain dialog remaja, di gedung perpustakaan itu juga diselenggarakan bazar buku bernuansa islami.

Alva yang juga narasumber beberapa acara talk show konsultasi psikologi radio swasta di Bandung mengatakan, remaja perlu juga seperti anak TK. "Anak TK selalu mengacungkan jari 'oke' kalau disuruh menyanyi. Tapi umumnya remaja malu-malu untuk tampil. Remaja gaul harus proaktif," kata tim ahli Super Kids Camp tersebut.

Resep yang dia berikan, remaja perlu berwawasan luas dengan berguru pada siapa saja, termasuk mendengarkan radio, berorganisasi, mengasah otak, dan mempraktikkan agama secara benar.

Mau Bersaing

Selain Alva yang santai, kocak, dan atraktif menjawab pertanyaan para mahasiswa, narasumber lain Ir Tendi Naim, Direktur Al-Azhar Syifa Budi Parahyangan, International Islamic School. Katanya, "Jangan puas menjadi guru. Jadilah owner, tapi harus mau bersaing dengan ketat."

Menurutnya, menjadi guru juga harus gaul, tapi perlu ekstrahati-hati untuk mengajar di tingkat SLTP dan SLTA. Sebab, kalau tidak pas akan disepelekan anak didik.

Dia juga mengatakan, beberapa perguruan tinggi sekarang menambahkan pendidikan akta IV untuk mahasiswa yang bakal menjadi guru. "Aktivis mahasiswa perlu mengusulkan perubahan pada kampus agar lulusan betul-betul siap menghadapi globalisasi, menjadi guru yang tahu pasar," katanya.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/08/kot03.htm

Memerangi Rasa Malas

Menghadapi mereka yang schoolfobia atau malas sekolah memang enggak gampang. Butuh dicari tahu penyebab dari masing-masing anak. Penanganannya pun berbeda untuk setiap kasus, kata seorang psikolog yang juga pemerhati pendidikan anak dan remaja, Bu Alva Handayani. Penyebab kemalasan anak untuk belajar dan akhirnya sampai malas berangkat sekolah bisa dideteksi sejak awal. Secara umum, penyebab utamanya adalah pola belajar yang dipakai sejak kecil, bisa dari TK atau SD. Faktor kebiasaanlah yang nantinya berpengaruh pada sikap masing-masing anak selanjutnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, rasa malas emang enggak dateng tiba-tiba ya. Pasti ada penyebab yang bikin kita malas melakukan sesuatu, padahal kita harus melakukan hal tersebut. Mungkin kalau dulu di SD atau TK, yang dianggap sebagai anak rajin adalah anak-anak yang duduk diam mendengarkan semua yang dibilang Ibu guru. Anak yang banyak tanya malah dianggap sebagai biang keributan. Hal seperti ini yang nantinya bisa berdampak kurang baik untuk anak-anak tertentu, tutur Bu Alva yang juga aktif sebagai trainer untuk remaja dan guru.

Tuntutan untuk lebih kreatif dari guru juga bisa jadi penyebab malas sekolah. Kalau saya lihat sih, anak-anak sekarang tingkat usahanya jauh lebih rendah dibandingkan anak-anak dulu. Dengan tingkat ekonomi ortu yang semakin baik, mereka pun akan menganggap belajar bukan sebagai usaha untuk tujuan ke depan dan semakin santai menghadapi semuanya, jelas Bu Alva.Menghadapi mereka yang schoolfobia atau malas sekolah memang enggak gampang.

Butuh dicari tahu penyebab dari masing-masing anak. Penanganannya pun berbeda untuk setiap kasus, kata seorang psikolog yang juga pemerhati pendidikan anak dan remaja, Bu Alva Handayani. Penyebab kemalasan anak untuk belajar dan akhirnya sampai malas berangkat sekolah bisa dideteksi sejak awal. Secara umum, penyebab utamanya adalah pola belajar yang dipakai sejak kecil, bisa dari TK atau SD. Faktor kebiasaanlah yang nantinya berpengaruh pada sikap masing-masing anak, lanjutnya

Bu Alva juga punya masukan untuk bapak dan ibu guru di sekolah supaya murid-muridnya rajin dan betah berada di sekolah. Pola mengajar dari guru pun harus disesuaikan dengan keadaan anak-anak di kelas, lho. Salah satu yang efektif adalah guru harus mencari korelasi antara pelajaran yang sedang dipelajari dan realita yang dihadapi anak-anak. Guru juga harus kreatif dong, supaya murid juga enjoy belajarnya. Alumni yang udah bekerja atau kuliah pun bisa dipanggil lagi untuk sharing dengan anka-anak. Mereka bisa dijadikan sebagai role model juga kan, tambah Bu Alva.

Sumber : http://smpit-nurulhikmah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=2

Penyimpangan Orientasi Seksual

Menurut psikolog Alva Handayani, ada tiga penyebab penyimpangan orientasi seksual, yaitu hormonal, psikologis, dan homo by accident. "Yang hormonal itu bisa disebabkan seorang lelaki memiliki lebih banyak hormon perempuan daripada hormon laki-lakinya. Atau sebaliknya. Yang psikologis, Bisa jadi orang tua menginginkan perempuan tapi lahirnya laki atau sebaliknya. Sehingga ketika tumbuh, si anak lebih dididik sebagai anak dengan jenis kelamin yang diinginkan orang tuanya. Atau jika seorang laki-laki dilahirkan di keluarga yang tidak memiliki role model laki-laki (ayah) atau sebaliknya. Jadi dia hanya memiliki satu role model dan berbeda dengan jenis kelaminnya. Nah, perilaku seperti ini merupakan cikal bakal kelainan ‘perilaku’ walau belum tentu menjadi homo juga. Tetapi memang punya potensi untuk lebih mudah menjadi homo," terang Bu Alva. Sedangkan homo by accident itu terjadi karena pengalaman yang menyenangkan ketika berhubungan dengan sesama jenis. Hal ini jadi kebiasaan, atau karena merasa nyaman dijadikan way of life.

Sumber : http://www.abiasa.org/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=35

Senin, 05 Januari 2009

DIBUTUHKAN KOMITMEN BERSAMA UNTUK MENYEMBUHKAN LUKA PERSELINGKUHAN (Wawancara dengan Alva Handayani)

Salah satu alasan menikah adalah adanya kesamaan, baik pola pikir ataupun visi tentang sebuah rumah tangga. Kesamaan tersebut pulalah yang membuat kebersamaan di antara mereka terjalin erat. Ketika kemudian masing-masing memiliki kesibukan di tempat kerja misalnya, frekuensi kebersamaan kian berkurang. Satu-satunya peluang mereka menghabiskan waktu bersama adalah di dalam rumah. Godaan pun datang ketika kesamaan yang dulu diperoleh di dalam rumah (dari pasangan) kini ditemukan pula dri rekan-rekan kerja atau teman-teman sepermianan. Di sinilah peluang selingkuh dengan rekan kerja atau teman sepermainan terbuka lebar.

Selingkuh adalah ketika seseorang sudah berpaling dari pasangan dengan alasan apapun. Kecenderungan terjadinya perselingkuhan adalah ketika orang membanding-bandingkan dengan pasangannya dengan orang lain yang notabene memiliki banyak kelebihan. Kelebihan ini misalnya dari segi penampilan yang lebih oke atau brain yang lebih berisi sehingga memunculkan daya tarik yang lebih kuat.

Pada tahap awal orang melakukan perselingkuhan pasti ada perasaan deg-deg-an. Ini dikarenakan hati nuraninya yang berusaha menghalangi dia berbuat selingkuh. Namun demikian, ada orang yang memilih mengabaikan bisikan nurani dan melanjutkan perselingkuhan dan ada pula yang mendengarkan dan membatalkan niatnya berselingkuh.

Tidak cukup hanya dengan hati nurani, keluarga berperan besar dalam menciptakan benteng penghalang perselingkuhan. Kebahagiaan dan kehangatan keluarga sedikit banyak dapat meredam keinginan berselingkuh. Penghalang lain adalah lingkungan yang mendukung orang untuk tidak melakukan perselingkuhan. Ketika lingkungan sekitar selalu mengingatkan, maka perselingkuhan tidak akan terjadi. Akan tetapi, ketika kita berada pada lingkungan yang menjadikan selingkuh sebagai tren, cepat atau lambat kita akan terpengaruh. Ketika teman-teman kerja misalnya, melakukan perselingkuhan maka itu menjadi sebuah pembenaran untuk ikut melakukan perselingkuhan. “Gak apa apa dong kalau aku selingkuh juga.”, katanya.

Tidak selamanya perselingkuhan diakibatkan kerana pasangan memiliki kekurangan. Ada orang yang berselingkuh hanya untuk mendapatkan kesenangan, excited, deg-degan, dan pujian dari teman-temannya. Ketika istri di rumah terlalu sempurna misalnya, suami malah tertantang untuk menaklukkan perempuan lain dengan standar kualitas lebih rendah sekalipun.

Kalau ditanya mengenai maraknya kaum wanita yang mengajukan perceraian setelah mengetahui suaminya berselingkuh, ini dikarenakan kaum wanita jaman sekarang lebih mandiri. Mereka lebih berani mengungkapkan pendapat. Ini tidak lepas dari lingkungan keluarga sudah tidak terlalu tradisional. Selain itu, factor intelektualitas perempuan yang mampu menalar berbagai permasalahan dengan rasio juga turut menjadi alasan mereka lebih mampu berdikari.

Ketika kita memilih mengambil jalan rujuk setelah suami atau istri kedapatan berselingkuh, maka hal pertama yang harus dilakukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga adalah memaafkan kesalahan pasangan. Namun demikian pihak yang melakukan selingkuh harus mempu meyakinkan bahwa dia bisa berubah. Dalam hal ini diperlukan penengah untuk memegang komitmen tersebut. Ya, diperlukan komitmen banyak pihak untuk membuat proses pemulihan luka perselingkuhan ini berhasil.

(Sumber : http://slyfication.blogspot.com/2008/09/dibutuhkan-komitmen-bersama-untuk.html

Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak

MENUMBUHKAN rasa percaya diri pada anak ibarat memperlakukan tunas tumbuhan. Tunas tersebut bisa saja tumbuh hanya dengan bantuan alam, namun alangkah lebih suburnya jika kita ikut menyirami dan memupuk tunas yang tersebut.

Menurut Alva, banyak hal yang bisa dilakukan orang tua dalam membantu anak memperoleh rasa percaya diri. “Misalnya, saat anak bertanya orang tua bisa menunjukkan rasa antusiasmenya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lebih jauh bahkan mendorong anak untuk terus bertanya lagi, misalnya dengan ‘Oke, kamu mau tanya apa lagi?” Kebiasaan ini membuat anak kelak berani bertanya di kelas. Jika anak tidak dilatih berani bertanya di rumah, di sekolah ia bisa kebingungan dan takut terhadap komentar teman atau gurunya jika ia bertanya sesuatu,” tutur Alva.

Rasa percaya diri juga ditumbuhkan melalui hal-hal yang kelihatan sepele namun sangat bermanfaat, misalnya melibatkan anak dalam mengambil keputusan di rumah.

“Contohnya anak diminta untuk mengusulkan akan ke mana pada liburan kali ini. Kalaupun kelak usulan itu ternyata tidak masuk akal atau tidak bisa dipenuhi, anak tetap diberi penghargaan atas usulannya. Dan orang tua menjelaskan dan memberikan alasan yang masuk akal mengapa mereka tak bisa menerima usulan tersebut,” katanya.

Untuk membuat anak percaya diri, orang tua harus melakukan pola asuh yang menstimulus atau merangsanag rasa percaya diri anak. Orang tua juga bisa membantu anak mendapatkan rasa percaya diri dengan mencari sumber percaya diri tersebut, yaitu potensi diri.

Potensi diri pada masing-masing anak bisa berbeda-beda. Ada yang bisa digali dari hasil akademisnya atau prestasi di sekolahnya. Namun, bukan berarti anak yang tidak berprestasi di sekolah tak memiliki sumber percaya diri tersebut. Potensi diri anak bisa digali dari jalur lainnya, misalnya kemampuan menyanyi, menari, atau juga sifat baik hati, ringan tangan, dan sebagainya.

(Dikutip dari : Percaya Diri Bahan Bakar Menuju Sukses

http://percayadiri.asmakmalaikat.com/percaya_diri_sukses.htm




Riwayat Alva Handayani

Selalu Ingin Kembali ke Lokasi

ALVA Handayani, sebetulnya bisa membagi ilmunya di Bandung atau kota besar lainnya. Namun pada satu masa kehidupannya justru ia ingin memberikan apa yang dia punya kepada orang-orang pelosok-pelosok desa. Maka, sang psikolog itu pun menjadi relawan antara lain di lokasi shooting Laskar Pelangi.

"Ya Allah, saya tidak mampu menjaga suami saya dan anak saya sekaligus. Tolong izinkan saya untuk hanya menjaga suami saya... Dan anak saya yang dalam kandungan ini, tolong Allah saja yang jaga ya?"

Begitulah doa Alva Handayani beberapa tahun lalu, ketika mendampingi suami yang sakit kanker stadium 4. Saat itu, psikolog anak yang kini sering menjadi pembicara di banyak seminar dan talkshow ini, tengah mengandung anak tunggalnya, Edwina Rismayanti (14). Sang suami digerogoti penyakit ganas itu di Lampung. Doa tersebut Alva panjatkan, karena dia merasa energinya lebih dibutuhkan untuk mendampingi suami, sebagai bentuk pengabdian seorang istri.

"Alhamdulillah, saya bisa mendampingi suami hingga saat-saat terakhir, membisikkan kalimat-kalimat Allah di telinganya," ujarnya mengenang.

Alva baru merasa berada di titik terendah dalam hidupnya, justru ketika dia kembali ke Bandung. Perempuan kelahiran 12 Desember 1969 ini khawatir tidak mampu memberikan kebahagiaan utuh kepada anak dalam kandungannya, tanpa kehadiran suami.

Namun tendangan pertama putrinya saat usia kehamilan 5 bulan, seolah menyadarkan Alva bahwa Tuhan telah kembali menitipkan amanah lain setelah suaminya. Amanah itu juga harus dijaga, dan oleh karenanya dia harus menjadi orang yang lebih kuat lagi. Sampai sekarang, Alva mengaku masih dapat merasakan tendangan pertama itu, dan selalu mengingat kebesaran Tuhan setiap kali mengingatnya. Dan kekhawatiran itu pun sirna tak berbekas.

"Waktu itu, saya terlalu memusatkan kecemasan saya pada apa yang belum tentu terjadi. Padahal Allah sudah mempersiapkan semuanya untuk saya, dan Dia tidak akan memberi beban di luar kemampuan seseorang," tuturnya yakin.

Dia pun memilih bangkit dan membesarkan anaknya menjadi orang yang baik. Sebagai seorang psikolog anak, lulusan Fakultas Psikologi Unpad ini mengaku menjadikan putrinya sebagai "eksperimen" semua ilmu psikologi tentang perkembangan yang dia pelajari. Lewat pendidikan ini, Alva ingin Ewin (begitu nama panggilan putrinya) menjadi orang yang mandiri, dan memanfaatkan masa pertumbuhannya untuk belajar apa pun.

Sebagai contoh, Alva tidak pernah memberikan sesuatu kepada putrinya secara gratis. Ketika Ewin minta untuk dibelikan boneka, Alva akan menanyakan tiga alasan mengapa dia harus membeli boneka itu. Kalau alasan yang disebutkan masuk akal, Alva akan membelikannya. Tetapi kalau tidak, Ewin harus melakukan banyak hal baik dulu untuk mendapatkan boneka itu.

"Saya berusaha mengajarkan bahwa jika dia mendapatkan sesuatu, haruslah sesuatu yang istimewa, untuk alasan yang memang kuat, dan dia layak untuk mendapatkannya," ungkapnya.

Alva patut berbangga, karena cara mendidiknya terbukti berhasil. Ewin tumbuh menjadi anak yang mandiri, periang, berprestasi, dan bertanggung jawab. Di usianya yang menginjak 14 tahun sekarang, Ewin sudah fokus untuk meraih kehidupan yang dia inginkan, yaitu mendalami ilmu desain grafis demi merintis toko distro miliknya sendiri. Meski di waktu lain, Ewin juga pernah berceloteh tentang keinginannya mengikuti jejak sang bunda, menjadi psikolog.

"Baru mendengar dia bilang begitu saja saya sudah senang," ujar Alva sambil tersenyum.

Doanya untuk sang buah hati sebenarnya sederhana, dia berharap Ewin dapat meraih cita-citanya, bukan hanya untuk mencukupi hidupnya, tetapi juga untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Sedikit banyak, cara mendidik Ewin sangat dipengaruhi oleh orangtuanya. Ayah Alva, Eppy Rivai Sapri, adalah seorang psikolog yang juga dosen senior Fakultas Psikologi Unpad. Sementara ibunya, Neni R.S. Jogapranata, merupakan mantan penyiar RRI Bandung. Maka bisa dibayangkan, Alva tumbuh dalam keluarga yang sangat kental dengan nilai-nilai pendidikan, tetapi moderat dan penuh kasih sayang. Dari ayahnya, Alva belajar tentang rasionalisme dan komitmen, sedangkan dari ibunya, dia belajar tentang kasih sayang dan ketulusan.

Alva mengingat ayahnya sebagai orang yang selalu mendorong dirinya untuk mandiri sejak kecil. Suatu ketika, saat Alva duduk di bangku SMP, dia menanyakan arti sebuah kata kepada sang ayah. Akan tetapi bukan jawaban yang dia dapat, melainkan buku kamus tebal di mana dia dapat menemukan jawaban yang dia cari. Tentu saja Alva kecil menggerutu. Dalam pikirannya, ayah sungguh tega karena tidak memberikan apa yang dibutuhkannya dengan mudah.

"Tapi baru terasa manfaatnya sekarang. Saya relatif tidak ada hambatan kalau mesti menggunakan sumber dalam bahasa Inggris, atau ketika harus mencari bahan-bahan di internet. Saya juga jadi suka sekali dengan buku dan sekarang punya perpustakaan sendiri di rumah," ucapnya sambil tersenyum.

Alva kemudian tumbuh sebagai anak yang mandiri dan tidak pernah sepi dari prestasi. Peringkat 1 di kelas sepanjang bersekolah tidak pernah lepas dari tangannya. Tradisi ini berlanjut hingga Alva mendapat PMDK ke Fakultas Psikologi Unpad, dan mendapat beasiswa untuk S-1 dan S-2.

"Untuk saya, ayah jadi idola. Dialah yang membuat saya memilih bidang psikologi, dan seperti ayah, saya juga sempat mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Psikologi Unisba selama hampir 8 tahun," ujarnya.

Jadi relawan

Selain membesarkan Ewin, Alva juga melanjutkan hidupnya dengan cara yang luar biasa. Dia menjadi relawan untuk mengajar ke pelosok sejak 2005. Mulai dari Ujung Sungai Apit di Kabupaten Siak sampai Kabupaten Belitung Timur (lokasi shooting film "Laskar Pelangi"), pernah dia datangi untuk mengajar guru dan siswa. Kepuasan saat melihat antusiasme belajar guru-guru dan siswa di pelosok, serta perubahan yang ditunjukkan mereka setelah itu, membuatnya selalu ingin kembali.

Mantan Kepala Sekolah TK-SD 9 Mutiara Bandung ini pernah menghabiskan 3 minggu untuk mengajar di Ujung Sampit Kab. Siak, yang dia singkat menjadi USA. Untuk mencapai tempat itu, Alva beserta tim harus menempuh 8 jam perjalanan dari Pekanbaru. Di sana, listrik hanya mengalir pada pukul 17.00 sampai dengan 7.00 WIB. Selebihnya, jangan harap ada energi listrik yang mampir. Selain itu, Alva harus menikmati air yang tersedia di sana, air payau yang asin dan berwarna kecokelatan.

Selama tiga minggu mengajar, Alva hanya mendapat libur satu hari saja. Kebetulan pada bulan itu, dia berulang tahun. Maka Alva memilih libur pada hari ulang tahunnya. Namun apa daya, banyak guru TK yang protes karena tidak kebagian dilatih olehnya. Maka Alva pun merelakan hari liburnya dan tetap mengajar guru-guru TK itu. Tetapi betapa terharunya dia, ketika di tengah-tengah pelatihan seorang guru datang membawa kue ulang tahun, diiringi lagu selamat ulang tahun yang serentak dinyanyikan guru-guru se-kecamatan.

"Bahkan ada guru yang saat pelatihan sedang hamil, ketika melahirkan anak perempuan, dia SMS saya untuk memberi tahu bahwa anaknya diberi nama Alva, seperti nama saya. Sungguh, rasa bahagianya tidak tergambarkan," katanya.

Dengan dedikasi seperti itu, tidak heran jika banyak sudah prestasi di bidang pendidikan yang diukir Alva. Beberapa di antaranya adalah juara 1 Penulisan Makalah Ilmiah Antar-Dosen di Unisba, The Best Ten makalah dan presentasi di Konferensi Guru Indonesia Sampoerna Foundation 2007, menerima penghargaan "The Most Effective Talk Award" dan "Human Relation Award" dalam program The Self Improvement Program yang diselenggarakan oleh PT Bina Potensia Indonesia & HD Consult .

Tinggal satu cita-cita yang ingin diwujudkan Alva di masa depan. "Saya ingin punya rumah di kampung, yang sekaligus jadi community learning center, di mana semua orang mulai dari guru, orang tua, anak-anak, remaja, bisa belajar di situ," Alva berharap.

Semoga. (Lia Marlia)***