Senin, 05 Januari 2009

DIBUTUHKAN KOMITMEN BERSAMA UNTUK MENYEMBUHKAN LUKA PERSELINGKUHAN (Wawancara dengan Alva Handayani)

Salah satu alasan menikah adalah adanya kesamaan, baik pola pikir ataupun visi tentang sebuah rumah tangga. Kesamaan tersebut pulalah yang membuat kebersamaan di antara mereka terjalin erat. Ketika kemudian masing-masing memiliki kesibukan di tempat kerja misalnya, frekuensi kebersamaan kian berkurang. Satu-satunya peluang mereka menghabiskan waktu bersama adalah di dalam rumah. Godaan pun datang ketika kesamaan yang dulu diperoleh di dalam rumah (dari pasangan) kini ditemukan pula dri rekan-rekan kerja atau teman-teman sepermianan. Di sinilah peluang selingkuh dengan rekan kerja atau teman sepermainan terbuka lebar.

Selingkuh adalah ketika seseorang sudah berpaling dari pasangan dengan alasan apapun. Kecenderungan terjadinya perselingkuhan adalah ketika orang membanding-bandingkan dengan pasangannya dengan orang lain yang notabene memiliki banyak kelebihan. Kelebihan ini misalnya dari segi penampilan yang lebih oke atau brain yang lebih berisi sehingga memunculkan daya tarik yang lebih kuat.

Pada tahap awal orang melakukan perselingkuhan pasti ada perasaan deg-deg-an. Ini dikarenakan hati nuraninya yang berusaha menghalangi dia berbuat selingkuh. Namun demikian, ada orang yang memilih mengabaikan bisikan nurani dan melanjutkan perselingkuhan dan ada pula yang mendengarkan dan membatalkan niatnya berselingkuh.

Tidak cukup hanya dengan hati nurani, keluarga berperan besar dalam menciptakan benteng penghalang perselingkuhan. Kebahagiaan dan kehangatan keluarga sedikit banyak dapat meredam keinginan berselingkuh. Penghalang lain adalah lingkungan yang mendukung orang untuk tidak melakukan perselingkuhan. Ketika lingkungan sekitar selalu mengingatkan, maka perselingkuhan tidak akan terjadi. Akan tetapi, ketika kita berada pada lingkungan yang menjadikan selingkuh sebagai tren, cepat atau lambat kita akan terpengaruh. Ketika teman-teman kerja misalnya, melakukan perselingkuhan maka itu menjadi sebuah pembenaran untuk ikut melakukan perselingkuhan. “Gak apa apa dong kalau aku selingkuh juga.”, katanya.

Tidak selamanya perselingkuhan diakibatkan kerana pasangan memiliki kekurangan. Ada orang yang berselingkuh hanya untuk mendapatkan kesenangan, excited, deg-degan, dan pujian dari teman-temannya. Ketika istri di rumah terlalu sempurna misalnya, suami malah tertantang untuk menaklukkan perempuan lain dengan standar kualitas lebih rendah sekalipun.

Kalau ditanya mengenai maraknya kaum wanita yang mengajukan perceraian setelah mengetahui suaminya berselingkuh, ini dikarenakan kaum wanita jaman sekarang lebih mandiri. Mereka lebih berani mengungkapkan pendapat. Ini tidak lepas dari lingkungan keluarga sudah tidak terlalu tradisional. Selain itu, factor intelektualitas perempuan yang mampu menalar berbagai permasalahan dengan rasio juga turut menjadi alasan mereka lebih mampu berdikari.

Ketika kita memilih mengambil jalan rujuk setelah suami atau istri kedapatan berselingkuh, maka hal pertama yang harus dilakukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga adalah memaafkan kesalahan pasangan. Namun demikian pihak yang melakukan selingkuh harus mempu meyakinkan bahwa dia bisa berubah. Dalam hal ini diperlukan penengah untuk memegang komitmen tersebut. Ya, diperlukan komitmen banyak pihak untuk membuat proses pemulihan luka perselingkuhan ini berhasil.

(Sumber : http://slyfication.blogspot.com/2008/09/dibutuhkan-komitmen-bersama-untuk.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar