Senin, 05 Januari 2009

Riwayat Alva Handayani

Selalu Ingin Kembali ke Lokasi

ALVA Handayani, sebetulnya bisa membagi ilmunya di Bandung atau kota besar lainnya. Namun pada satu masa kehidupannya justru ia ingin memberikan apa yang dia punya kepada orang-orang pelosok-pelosok desa. Maka, sang psikolog itu pun menjadi relawan antara lain di lokasi shooting Laskar Pelangi.

"Ya Allah, saya tidak mampu menjaga suami saya dan anak saya sekaligus. Tolong izinkan saya untuk hanya menjaga suami saya... Dan anak saya yang dalam kandungan ini, tolong Allah saja yang jaga ya?"

Begitulah doa Alva Handayani beberapa tahun lalu, ketika mendampingi suami yang sakit kanker stadium 4. Saat itu, psikolog anak yang kini sering menjadi pembicara di banyak seminar dan talkshow ini, tengah mengandung anak tunggalnya, Edwina Rismayanti (14). Sang suami digerogoti penyakit ganas itu di Lampung. Doa tersebut Alva panjatkan, karena dia merasa energinya lebih dibutuhkan untuk mendampingi suami, sebagai bentuk pengabdian seorang istri.

"Alhamdulillah, saya bisa mendampingi suami hingga saat-saat terakhir, membisikkan kalimat-kalimat Allah di telinganya," ujarnya mengenang.

Alva baru merasa berada di titik terendah dalam hidupnya, justru ketika dia kembali ke Bandung. Perempuan kelahiran 12 Desember 1969 ini khawatir tidak mampu memberikan kebahagiaan utuh kepada anak dalam kandungannya, tanpa kehadiran suami.

Namun tendangan pertama putrinya saat usia kehamilan 5 bulan, seolah menyadarkan Alva bahwa Tuhan telah kembali menitipkan amanah lain setelah suaminya. Amanah itu juga harus dijaga, dan oleh karenanya dia harus menjadi orang yang lebih kuat lagi. Sampai sekarang, Alva mengaku masih dapat merasakan tendangan pertama itu, dan selalu mengingat kebesaran Tuhan setiap kali mengingatnya. Dan kekhawatiran itu pun sirna tak berbekas.

"Waktu itu, saya terlalu memusatkan kecemasan saya pada apa yang belum tentu terjadi. Padahal Allah sudah mempersiapkan semuanya untuk saya, dan Dia tidak akan memberi beban di luar kemampuan seseorang," tuturnya yakin.

Dia pun memilih bangkit dan membesarkan anaknya menjadi orang yang baik. Sebagai seorang psikolog anak, lulusan Fakultas Psikologi Unpad ini mengaku menjadikan putrinya sebagai "eksperimen" semua ilmu psikologi tentang perkembangan yang dia pelajari. Lewat pendidikan ini, Alva ingin Ewin (begitu nama panggilan putrinya) menjadi orang yang mandiri, dan memanfaatkan masa pertumbuhannya untuk belajar apa pun.

Sebagai contoh, Alva tidak pernah memberikan sesuatu kepada putrinya secara gratis. Ketika Ewin minta untuk dibelikan boneka, Alva akan menanyakan tiga alasan mengapa dia harus membeli boneka itu. Kalau alasan yang disebutkan masuk akal, Alva akan membelikannya. Tetapi kalau tidak, Ewin harus melakukan banyak hal baik dulu untuk mendapatkan boneka itu.

"Saya berusaha mengajarkan bahwa jika dia mendapatkan sesuatu, haruslah sesuatu yang istimewa, untuk alasan yang memang kuat, dan dia layak untuk mendapatkannya," ungkapnya.

Alva patut berbangga, karena cara mendidiknya terbukti berhasil. Ewin tumbuh menjadi anak yang mandiri, periang, berprestasi, dan bertanggung jawab. Di usianya yang menginjak 14 tahun sekarang, Ewin sudah fokus untuk meraih kehidupan yang dia inginkan, yaitu mendalami ilmu desain grafis demi merintis toko distro miliknya sendiri. Meski di waktu lain, Ewin juga pernah berceloteh tentang keinginannya mengikuti jejak sang bunda, menjadi psikolog.

"Baru mendengar dia bilang begitu saja saya sudah senang," ujar Alva sambil tersenyum.

Doanya untuk sang buah hati sebenarnya sederhana, dia berharap Ewin dapat meraih cita-citanya, bukan hanya untuk mencukupi hidupnya, tetapi juga untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Sedikit banyak, cara mendidik Ewin sangat dipengaruhi oleh orangtuanya. Ayah Alva, Eppy Rivai Sapri, adalah seorang psikolog yang juga dosen senior Fakultas Psikologi Unpad. Sementara ibunya, Neni R.S. Jogapranata, merupakan mantan penyiar RRI Bandung. Maka bisa dibayangkan, Alva tumbuh dalam keluarga yang sangat kental dengan nilai-nilai pendidikan, tetapi moderat dan penuh kasih sayang. Dari ayahnya, Alva belajar tentang rasionalisme dan komitmen, sedangkan dari ibunya, dia belajar tentang kasih sayang dan ketulusan.

Alva mengingat ayahnya sebagai orang yang selalu mendorong dirinya untuk mandiri sejak kecil. Suatu ketika, saat Alva duduk di bangku SMP, dia menanyakan arti sebuah kata kepada sang ayah. Akan tetapi bukan jawaban yang dia dapat, melainkan buku kamus tebal di mana dia dapat menemukan jawaban yang dia cari. Tentu saja Alva kecil menggerutu. Dalam pikirannya, ayah sungguh tega karena tidak memberikan apa yang dibutuhkannya dengan mudah.

"Tapi baru terasa manfaatnya sekarang. Saya relatif tidak ada hambatan kalau mesti menggunakan sumber dalam bahasa Inggris, atau ketika harus mencari bahan-bahan di internet. Saya juga jadi suka sekali dengan buku dan sekarang punya perpustakaan sendiri di rumah," ucapnya sambil tersenyum.

Alva kemudian tumbuh sebagai anak yang mandiri dan tidak pernah sepi dari prestasi. Peringkat 1 di kelas sepanjang bersekolah tidak pernah lepas dari tangannya. Tradisi ini berlanjut hingga Alva mendapat PMDK ke Fakultas Psikologi Unpad, dan mendapat beasiswa untuk S-1 dan S-2.

"Untuk saya, ayah jadi idola. Dialah yang membuat saya memilih bidang psikologi, dan seperti ayah, saya juga sempat mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Psikologi Unisba selama hampir 8 tahun," ujarnya.

Jadi relawan

Selain membesarkan Ewin, Alva juga melanjutkan hidupnya dengan cara yang luar biasa. Dia menjadi relawan untuk mengajar ke pelosok sejak 2005. Mulai dari Ujung Sungai Apit di Kabupaten Siak sampai Kabupaten Belitung Timur (lokasi shooting film "Laskar Pelangi"), pernah dia datangi untuk mengajar guru dan siswa. Kepuasan saat melihat antusiasme belajar guru-guru dan siswa di pelosok, serta perubahan yang ditunjukkan mereka setelah itu, membuatnya selalu ingin kembali.

Mantan Kepala Sekolah TK-SD 9 Mutiara Bandung ini pernah menghabiskan 3 minggu untuk mengajar di Ujung Sampit Kab. Siak, yang dia singkat menjadi USA. Untuk mencapai tempat itu, Alva beserta tim harus menempuh 8 jam perjalanan dari Pekanbaru. Di sana, listrik hanya mengalir pada pukul 17.00 sampai dengan 7.00 WIB. Selebihnya, jangan harap ada energi listrik yang mampir. Selain itu, Alva harus menikmati air yang tersedia di sana, air payau yang asin dan berwarna kecokelatan.

Selama tiga minggu mengajar, Alva hanya mendapat libur satu hari saja. Kebetulan pada bulan itu, dia berulang tahun. Maka Alva memilih libur pada hari ulang tahunnya. Namun apa daya, banyak guru TK yang protes karena tidak kebagian dilatih olehnya. Maka Alva pun merelakan hari liburnya dan tetap mengajar guru-guru TK itu. Tetapi betapa terharunya dia, ketika di tengah-tengah pelatihan seorang guru datang membawa kue ulang tahun, diiringi lagu selamat ulang tahun yang serentak dinyanyikan guru-guru se-kecamatan.

"Bahkan ada guru yang saat pelatihan sedang hamil, ketika melahirkan anak perempuan, dia SMS saya untuk memberi tahu bahwa anaknya diberi nama Alva, seperti nama saya. Sungguh, rasa bahagianya tidak tergambarkan," katanya.

Dengan dedikasi seperti itu, tidak heran jika banyak sudah prestasi di bidang pendidikan yang diukir Alva. Beberapa di antaranya adalah juara 1 Penulisan Makalah Ilmiah Antar-Dosen di Unisba, The Best Ten makalah dan presentasi di Konferensi Guru Indonesia Sampoerna Foundation 2007, menerima penghargaan "The Most Effective Talk Award" dan "Human Relation Award" dalam program The Self Improvement Program yang diselenggarakan oleh PT Bina Potensia Indonesia & HD Consult .

Tinggal satu cita-cita yang ingin diwujudkan Alva di masa depan. "Saya ingin punya rumah di kampung, yang sekaligus jadi community learning center, di mana semua orang mulai dari guru, orang tua, anak-anak, remaja, bisa belajar di situ," Alva berharap.

Semoga. (Lia Marlia)***

2 komentar:

  1. yang bikin blog ini siapa ya?
    hmmmm... namanya jgn alva handayani's fans dong.. asa gimanaaa gitu.. plis :D

    regrads,
    edwina r :)

    BalasHapus
  2. Halo.. senang sekali bisa menelusuri kembali catatan dan pemikiran yang sudah dibuat. Salam hangat untuk kawan saya yang sudah membuat blog ini. Jika ingin mengetahui catatan terbaru dari saya, dengan segala kerendahan hati, saya undang ke blog saya di alvahandayani.wordpress.com.

    best regard
    ALVA HANDAYANI

    BalasHapus